Diskusi dengan Prof. dr. Supartondo

 

Prof. dr. Supartondo
Jl. Cempaka Putih Tengah No. 49
Jakarta, 10510

Jakarta, 30 Maret 2004

Kepada Yth :
Dr. Taufiq M. Waly, Sp.PD
d/a
Bagian Penyakit Dalam RSUD Waled
Jl. Kesehatan No. 04
Waled Cirebon

Terima kasih atas kiriman makalah tentang penelitian DBD yang dilakukan tahun1998. Dari informasi yang saya dapt di surat kabar, timbul beberapa pertanyaan :
1. Apakah siklus 5 Tahunan yang selama ini dianggap enteng oleh DepKes telah memukul teler jajaran kesehatan kita.
2. Mengapa di Malaysia tidak ada KLB DBD seperti di Indonesiaa :
3. Apakah cara preventif (3M, abatitasi) yang tahun 1972 sudah dikerjakan (saya sendiri ikut menyuluh di RT – RW Cempaka Putih, Jakarta) telah diabaikan ?
4. Mungkinkah gambaran klinik telah berubah sehingga menyulitkan diagnosis, sebelum pemastian dengan pemeriksaan trombosit, antibodi dan sebagainya ?
5. Perlukan pedoman praktis untuk dokter dan masyarakat awam bila pasien demam (ingat biaya angkutan, laboratorium dan sebagainya) ?

Atas perhatian TS saya ucapkan terima kasih

Ttd
Prof. Dr. SUPARTONDO

Jawaban
Cirebon, 04 April 2004

Kepada Yth,
Prof. Dr. Supartondo
Di tempat

Saya sangat gembira atas tanggapan Profesor terhadap tulisan saya itu. Terlihat dari Pertanyaan Profesor, suatu rasa cinta yang besar terhadap negara kita ini, Indonesia.

Seharusnya dengan berulang-ulangnya DBD di Indonesia, bukan hanya Depkes yang terpukul tetapi seluruh jajaran manager di lndonesia termasuk juga top managernya harusnya merasa malu.3M sampai dengan hari kiamat pun tak akan melumpuhkan serangan DBD, selama kebersihan total (dalam arti luas) belum menjadi pedoman hidup bagi seluruh manager di lndonesia.Malaysia dalam 20 tahun terakhir ini telah jauh melampaui kita dalam masalah kebersihan total ini (Sebelumnya DBD pernah menjadi momok di negeri Jiran tersebut).Itulah jawaban saya untuk pertanyaa nomor l,2. dan 3. Terlalu luas kalau kita menjabarkan tentang masalah kebersihan total ini dan efeknya terhadap adanya DBD yang berulang-ulang.

Menentukan suatu demam apakah disebabkan oleh karena virus Dengue atau bukan memang sulit Sehingga WHO menyatakan bahwa apa yang sebenamya kita lihat tentang banyaknya orang yang terserang demam oleh karena virus Dengec adalah hanya puncak gunung es saja (silent dengue infection). Dan ini sesuai dengan teori hipersensitivitas tipe III yang menyatakan bahwa kepekaan individulah yang menyebabkan gambaran klinik DBD sangat variatif. Jadi bukannya gambaran klinik DBD telah berubah tetapi sejak dari dahulu pun memang sangat variatif Kesepakatan WHO lah yang menyebabkan kita mendapatkan patokan untuk mcndiagnosa DBD. Masalahnya adalah apakah perlu kita merisaukan kesalahan diagnosa DBD secara gambaran klinis (misalnya dalam praktek) apabila terapi yang diberikan hanyalah minum air banyak – banyak dan obat penurun panas.Kematian akibat DBD adalah kecil (+1.5 .- 2%) terlebih lebih pada pasien dewasa. ltulah sebabnya, mengapa kita dapat mengerti seorang pasien yang seharusnya di diagnosa DBD, tetapi dikatakan menderita tipoid. Kemudian pergi kedokter lain.dikatakan menderita tipoid lagi, seperti yang kita baca di koran-koran.

Pertanyaan Profesor yang nomor 4 itu menjadi sangat penting. apabila ada obat lain yang harus diberikan selain air dan obat penurun panas.Kematian 1,5 – 2% .adalah besar jika yang terkena DBD ratusan ribu orang. Dan kematian tersebut dapat terjadi I – 2 hari setelah seseorang didiagnosa DBD.

Bedasarkan itu semua maka menurut hemat saya tidak perlu pedoman praktis bagi dokter/masyrakat. Yang perlu bagi para dokter adalah anjuran dan pengajaran yaitu :
1.Membaca koran setiap hari,supaya ilmu pengetahuan mereka (dalam arti luas) dan kesadaran mereka bertambah. Sehingga diharapkan mereka dapat menjadi dokter yang baik bagi masyarakat;
2.Memeriksa Rumple Leed pada setiap pasien panas < 7 hari
3.Mengajarkan pada mereka tentang kemungkinan HS tipe III dan antibodi trombosit sebagai dasar patofisiologi dan patogenesis DBD. Dan kemudian terserah pada mereka apakah menggunakan kortikosteroid atau tidak pada Pasien DBD. baik pada pasien rawat jalan maupun rawat inap;
4 Meminta program laboratorium yang lebih lengkap.

Sedangkan pada masyarakat selain terus menggalakkan program 3M, penyuluhan tentang penyakit DBD pun harus terus dilakukan. Selain itu mereka pun harus terus dimotivasi untuk mendapatkan hak dalam arti yang seluas luasnya.

Saya tidak tahu apakah anjuran saya cukup cost effective atau tidak. Tetapi kalau kita ingin memberantas DBD sampai ke akar – akarnya, terapi seberat revolusi pun terpaksa harus kita jalankan.

Itulah tanggapan saya terhadap pertanyaan – pertanyaan yang profesor ajukan. Mudah – mudahan profesor merasa puas dan semoga Allah SWT memberikan kekuatan kepada kita untuk tetap berbakti pada jalannya yang lurus. Amin.]

Wassalam

 

 

Dr. TAUFIQ M. WALY