Artikel 44 – Virus Zika (Hantu Jadi-Jadian)

VIRUS ZIKA (HANTU JADI-JADIAN)

Taufiq Muhibbuddin Waly

Bagi seorang intelektual sejati, seyogianya tidak ada ketakutan untuk mempertanyakan suatu hal yang dianggap benar. Betapapun hal itu, diamini oleh seluruh intelektual dunia. Bahkan kebenaran yang dikatakan berasal dari Tuhan, bukan menjadi halangan untuk dipertanyakan juga. Risiko dikatakan sebagai orang gila, bodoh, pemberontak atau atheis seyogianya tidak menjadikan intelektual itu mundur dari keinginan untuk mengetahui kebenaran yang sesungguhnya.

Bila kita sebut WHO, maka persepsi kita adalah para intelektual tertinggi di dunia berkumpul di situ khususnya dalam bidang kesehatan. Tidak mungkin kumpulan orang-orang terhebat dalam bidang kedokteran itu, melakukan kesalahan. Tapi bagi saya bila orang-orang hebat itu menyatakan bahwa LGBT tidak termasuk penyakit jiwa, jelas adalah kesalahan (search LGBT no way). Begitu juga dengan berpihaknya orang-orang hebat itu pada teori Halstead dalam masalah patogenesis dan patofisiologi infeksi virus Dengue, menurut saya adalah suatu kesalahan juga. Hipersensitivitas tipe 3, sebagai dasar patogenesis dan patofisiologi DBD adalah suatu hal yang lebih logis. Suatu teori yang mengandalkan kejelian, dengan mengumpulkan seluruh penelitian yang ada tentang infeksi Dengue (termasuk penelitian Halstead) dan menyimpulkannya bahwa itu adalah reaksi hipersensitivitas tipe III atau reaksi komplek imun. Kekuatan teori itu terlihat, dengan berhasilnya tulisan saya menempati rangking pertama Google dalam berbagai masalah tentang infeksi Dengue (search DHF pathogenesis and pathphysiology, DHF and SLE, DHF vaccination dan controversy of corticosteroid in Dengue infection). Menyatakan bunyi jantung satu dan dua adalah lup-dup, bukan Alloo-Hu adalah juga suatu kesalahan bagi saya (search what is onomatopoeia of our hearts beat sound like). Begitu juga dengan memaksakan seluruh manusia di dunia melakukan segala macam vaksinasi, adalah suatu kesalahan. Itu hanya menambah beban hutang dari negara-negara miskin tersebut. Seharusnya WHO memacu peningkatan gizi dari masyarakat di dunia ini. Vaksinasi yang dilakukan hanyalah vaksinasi yang memang dibutuhkan oleh rakyat negara tersebut dan harus ada evaluasi terhadap keberhasilan vaksinasi itu. Begitu juga tentang teori dasar ilmu penyakit jiwa. Adalah mutlak, menurut saya bila WHO menganjurkan pada seluruh ahli penyakit jiwa dunia untuk memasukkan id Allooh atau insting mencari Tuhan sebagai salah satu dasar pada jiwa manusia yang sehat. Dan itu akan menyehatkan jiwa manusia tersebut, bila dikelola dengan baik (search LGBT No Way).

Bagaimana dengan virus Zika?

Virus Zika dianggap hantu oleh karena virus tersebut dituduh menyebabkan gangguan pada manusia terutama kelumpuhan seluruh anggota geraknya (Guillain-Barre syndrome/GBS). Suatu penyakit yang sangat jarang terjadi dan biasanya disebabkan oleh reaksi autoimun. Virus Zika juga dianggap hantu oleh karena dituduh menyebabkan kecilnya ukuran kepala bayi yang baru lahir (termasuk otaknya), bila dibandingkan dengan ukuran kepala bayi baru lahir lainnya sesuai dengan jenis kelaminnya.  Virus Zika sebagai hantu yang dituduh menyebabkan GBS dan mikrosefali itu telah disahkan oleh WHO pada bulan Maret 2016. Dengan dasar itu logis, bila hantu Zika tersebut membuat panik masyarakat dunia terutama di Amerika Latin dan saat ini di Asia Tenggara. Kepala negara dari daerah-daerah tersebut ikut pula disibukkan oleh hantu virus Zika itu. Sehingga Obama sebagai presiden negara adidaya di dunia meminta para ilmuwannya untuk dapat membuat vaksin terhadap virus Zika secepatnya. Dan kabarnya vaksin untuk virus Zika tersebut, akan selesai dibuat pada tahun ini.

 A. Virus Zika sebagai hantu yang dituduh menyebabkan penyakit GBS.

Tidak ada data yang valid yang menunjukkan bahwa virus Zika, adalah penyebab GBS, kecuali apa yang telah dituliskan oleh Van-Mai Cao Lormeau, Alexandre Blake, Sandrine Mons, dkk (Guillain-Barre Syndrome outbreak associated with Zika virus infection in French Polynesia: a case-control study). Suatu laporan penelitian yang dibuat pada saat terjadinya outbreak GBS di Polynesia Prancis antara bulan Oktober 2013  s/d April 2014.

Penularan virus Zika terutama lewat vektor Aedes Aegypty maka sudah sepantasnya virus Dengue juga diperiksa. Virus Zika dan virus Dengue berasal dari keturunan yang sama yaitu Flavivirus dari keluarga flaviviridei. Keduanya disebarkan dengan bantuan vektor nyamuk Aedes Aegypty. Kedua virus itupun termasuk virus RNA. Penelitian di Polynesia Prancis itu melaporkan bahwa:

  • GBS yang berobat ke rumah sakit 42 orang, padahal pada tahun 2009, 2010, 2011 dan 2012, GBS yang berobat ke rumah sakit di Polynesia Prancis hanya berjumlah 5, 10, 3, 3, orang.
  • GBS dengan riwayat panas sebelumnya berjumlah 31 orang. GBS tanpa riwayat panas, 11 orang.
  • Semua pasien GBS yang jumlahnya 42 orang itu diperiksa R T-PCR virus Zikanya.
  • Didapatkan hasil virus Zika + berdasar RT-PCR adalah 41 orang, IgM Zika (+) 39 orang, IgG Zika (+) 29 orang, IgG Dengue (+) 40 orang dan IgM Dengue (+) 8 orang.
  • Sedangkan dari 36 orang dengan GBS (+), isolasi virus RNA + dengan strain ≥ 2 (36 orang) IgG virus Zikanya (+) dan tanpa riwayat panas maka infeksi virus Dengue juga dapat menyebabkan terjadinya GBS-GBS itu dengan kemungkinan adalah 86% (25 orang, IgG Dengue (+)), pada pasien dengan RT-PCR virus Zikanya (+) (29 orang). Sedangkan bila IgG virus Zikanya( -) maka kemungkinan GBSnya disebabkan oleh virus Dengue adalah 85% (11 orang, IgG Dengue (+)) pada pasien dengan RT-PCR Zikanya (+) (13 orang).
  • Sedangkan bila gejala GBS (-), tetapi isolasi virus RNA (+) pada 2 strain atau lebih (65 orang) IgG Zika (+), infeksi virus Dengue dapat juga (+) s/d 92% (23 orang IgG Dengue (+)) pada pasien dengan RT-PCR virus Zikanya (+) (25 orang). Tapi bila IgG Zikanya (-) maka kemungkinan virus RNA yang positif itu adalah virus Dengue mencapai 56% atau 42 orang (IgG Dengue (+)).

Kesimpulan laporan penelitian dari Polynesia Perancis itu menurut analisa saya adalah:

  1. Bila kita bertemu dengan pasien GBS dengan panas dan IgM Zikanya (+) tanpa diperiksa RT-PCRnya, maka infeksi Dengue juga dapat menyebabkan hal itu, tetapi melalui IgGnya yang positif. Tetapi kemungkinan virus Dengue menyebabkan GBS (+) ditolak oleh para peneliti itu dan WHO sebab pada penelitian itu didapatkan dari 42 orang yang GBSnya (+) itu, IgM Zika (+) sampai 39 orang (92%), sedangkan IgM Dengue (+) hanya 8 orang. Virus Dengue hanya tinggi pada IgGnya saja (40 orang). Jadi GBSitu disebabkan oleh virus Zika, karena IgM yang positif menyebabkan gejala akut GBS (+) (42 orang) pada penelitian itu ternyata IgM Zikanya positif adalah 39 orang (92%), sedangkan infeksi Dengue IgMnya positif hanya 8 orang (19%) dan IgG Dengue positif pada 40 orang (95%). Dengan dasar itu para penulis penelitian itu dan juga WHO menyatakan bahwa GBS yang terjadi itu disebabkan oleh virus Zika.

Alasan seperti itu pada hemat saya adalah kesalahan mendasar. IgM positif tidak berarti akut dan IgG positif tidak berarti kronik. IgM positif, berarti timbulnya immunoglobulin M, yang secara textbook dikatakan adalah antibodi pertama yang berusaha menangkap virus (terjadi komplek antigen-antibodi). Dan untuk selanjutnya dihancurkan oleh sistim makrofag. Karena immunoglobulin M hanya berjumlah sedikit (+/- 25% dari immunoglobulin antobodi), maka komplek antigen-antibodi yang terbentuk hanya berjumlah sedikit. Sehingga gejala klinik yang terjadi biasanya ringan. Saya setuju dengan penelitian Halstead yang menyatakan bahwa dia tidak menemukan pada anak-anak Thailand dengan DHF yang terjadi syok karena infeksi primer/IgM positif (S.B Halstead Dengue Hemorrhagic Fever: Two infection and antibodi dependent enhancement , a brief history and personal memoir. Rev Cubana Med Trop, vol 54 n.3 Ciudad de la Habana sep.-dic. 2002). Pada DHF IgM positif baru terjadi pada hari ke-5 sakit. Karena itu sebelum hari ke-5, komplek antigen-antibodi yang terbentuk sangat rendah.  Atau banyak virus yang belum terikat dengan antibodi. Hal ini akan menyebabkan aktivasi komplemen yang lemah dan akibatnya tidak menimbulkan badai sitokin. Karena virus tanpa terikat antibodi tidak dapat mengaktifkan C1, C2 dan C4. Dengan alasan itu semua, terjadinya GBS terutama disebabkan oleh aktivitas IgG bukan IgM. Berarti infeksi virus Dengue lah sebagai penyebab terjadinya GBS di Polynesia Prancis itu. Bahkan bila pasien seperti yang dituliskan di atas, dicek RT-PCR Zikanya dan hasilnya positif, dengan alasan-alasan yang telah dikemukakan, tetaplah penyebabnya kemungkinan besar adalah virus Dengue. Betapapun yang positif hanya IgG Denguenya saja ( tanpa melakukan pemeriksaan isolasi virus Dengue). Dengan dasar itu pula, bila kita bertemu dengan pasien yang baru saja terkena GBS pada daerah endemik Dengue seperti negara Asia Tenggara dan Amerika Latin maka yang kita pikirkan pertama adalah disebabkan oleh infeksi Dengue ketimbang disebabkan oleh infeksi virus Zika betapapun laboratorium belum diperiksa. Hal ini bertambah rasional bila kita setuju dengan teori T.MUDWAL yang mengatakan bahwa dasar patogenesis dan patofisiologi infeksi Dengue adalah reaksi hipersensitivitas tipe 3 atau reaksi komplek imun. Dengan dasar itu terjadinya reaksi autoimun seperti pada GBS, SLE, Evan Syndrome, HELLP syndrome, ITP, dsb adalah sangat mungkin terjadi. Search Again Let’s Discuss About DHF Patogenesis and Patophysiology dan search Can Dengue Infection Virus Provoke Autoimmune Fulminant Hepatitis and SLE. Dengan penjelasan itu kita baru mendapat pengertian bahwa IgM dan IgG sebenarnya tidak menunjukkan akut dan kronik. Dan juga dengan penjelasan itu, kita baru mengetahui bahwa pada virus Dengue, IgG lebih kuat untuk membuat reaksi berat ketimbang IgM. Pertanyaannya adalah apakah tidak mungkin IgM yang dikeluarkan oleh virus Zika lebih hebat reaksinya ketimbang IgG virus Dengue? Atau virus Zika itu sendiri mampu untuk merusak sel tubuh misalnya dengan mekanisme apoptosis. Pada infeksi virus Dengue, memang terbukti bahwa pada saat viremia atau belum terbentuknya ikatan virus dengan antibodi gejala klinik justru lebih ringan (search Again Let’s Discuss). Apakah hal tersebut berlaku untuk virus Zika? Karena berasal dari keturunan dan keluarga yang sama seharusnya mekanisme yang terjadi pada virus Dengue terjadi juga pada virus Zika. Bahkan virus Zika lebih lemah kekuatannya daripada virus Dengue. Oleh karena selama ini, kita tidak pernah mendengar penyakit yang berat akibat virus Zika. Padahal, bila berasal dari keturunan dan keluarga yang sama, vektor yang sama, serta hospes hidup yang ideal adalah sama (monyet), adalah sangat mungkin bila selain virus Dengue, juga didapatkan virus Zika pada orang-orang yang terinfeksi virus Dengue di daerah endemis Dengue. Seperti Indonesia atau Singapura atau negara-negara Asia Tenggara lainnya. Begitu juga dengan negara-negara di Amerika Latin. Ditemukannya virus Zika pada orang Klaten dan Jambi serta orang asli Singapura yang tidak terbukti kontak atau berpergian ke daerah endemis Zika adalah contohnya.

  1. Pasien panas dengan IgG Zikanya positif, bahkan RT-PCRnya positif, belum tentu disebabkan oleh virus Zika. Sebab kemungkinan virus Dengue (IgG Dengue positif) yang menyebabkan itu masih sangat tinggi (86%) .
  2. Dengan dasar nomor 1 dan 2 bila kita bertemu pasien panas dengan gejala klinik mata merah, nyeri sendi, kemerahan pada kulit pada daerah endemis Dengue, dan belum dilakukan pemeriksaan laboratorium maka yang dipikirkan pertama kali penyebabnya adalah infeksi virus Dengue bukan Zika. Penyebaran komplek imun ke mata dapat menyebabkan mata merah. Bahkan secara pengalaman saya sudah pernah menjumpai 3 orang dengan mata merah dan ada perdarahan pada matanya yang confirmed Dengue.

Dengan pembahasan-pembahasan yang telah dilakukan, virus Zika, tidak terbukti kuat, sebagai hantu yang menyebabkan terjadinya GBS. Virus Dengue lebih kuat untuk dituduh sebagai hantu penyebab GBS. Pilihan kedua virus itu bila kita dipaksa memilih apakah virus Dengue ataukah virus Zika sebagai penyebab GBS akhir-akhir ini. Padahal GBS masih bisa disebabkan oleh banyak virus/bakteri/hal-hal lainnya.

B. Virus Zika sebagai hantu yang dituduh menyebabkan mikrosefali pada ibu hamil.

Dunia dikejutkan dengan laporan menteri kesehatan Brazil, bahwa pada minggu pertama bulan Januari 2016, telah tercatat 3530 kasus mikrosefali di seluruh Brazil. Padahal antara 2010-2014 kasus mikrosefali seluruh Brazil, rata-rata 163 per tahunnya dan laporan terakhir dari menteri kesehatan Brazil pada bulan April 2016, kasus mikrosefali di seluruh Brazil mencapai 4908 kasus. Sedangkan masyarakat

 Brazil yang dicurigai terkena Zika antara Februari-April 2016 adalah 91387 orang.

Penyebab mikrosefali secara umum adalah alkohol, toxoplasmosis, cytomegalovirus, rubella, bahan-bahan kimia, diabetes, malnutrisi, radiasi, dsb.

 Zika dituduh sebagai hantu penyebab mikrosefali tersebut karena alasan-alasan sebagai berikut:

  1. Virus Zika terdeteksi di bulan Januari 2016 pada 4 orang ibu hamil dengan malformasi kongenital pada bayinya. 2 bayi keguguran pada kehamilan 37 minggu dan 2 bayi lagi sempat dilahrikan, tapi meninggal dunia 24 jam setelah dilahirkan. Pada kedua bayi tiupun ditemukan virus Zika yang positif.
  2. Ditemukannya virus Zika pada 2 orang wanita hamil di cairan ketubannya pada daerah Paraiba, Brazil, Desember 2015. Dan kedua anak dari perempuan tersebut mengalami mikrosefali.
  3. Dari 35 orang ibu hamil yang tinggal atau berkunjung ke daerah endemis Zika di Brazil, 71%nya (25 orang), mengalami mikrosefali pada anaknya.
  4. Penelitian Patricia Brasil, Jose P. Pereira Jr., Claudia Raja Gabaglia, dkk (Zika Virus Infection in Pregnant Women in Rio de Janeiro – Preliminary Report) menunjukkan kenyataan bahwa memang virus ZIka banyak menginfeksi wanita hamil di Brazil. Saya ambil artikel itu, oleh karena artikel itu pada pandangan saya adalah artikel terlengkap yang menunjukkan hubungan virus Zika dengan mikrosefali.

Laporan hasil penelitian:

  • Sampel penelitian adalah 88 orang ibu hamil.
  • 82% (72 orang) virus Zikanya positif dengan pemeriksaan RT-PCR.
  • Panas yang terjadi pada pasien dengan virus Zika positif adalah 20 orang (72,8%), sedangkan ZIka negative 5 orang (31,2%).
  • Conjunctiva injection positif 58,3% pada Zika positif vs 13,3% pada Zika negative.
  • Rash atau kemerahan pada kulit 44% (Zika positif) vs 12% (Zika negatif).
  • Atralgia 63,9% (ZIka positif) vs 43,8% (Zika negatif).
  • Dari 42 orang Zika positif yang di USG, ternyata 12 orang terlihat gangguan fetus (29%). Dan dari 16 orang Zika negatif yang di USG, tidak satupun yang terlihat gangguan fetus.
  • Seluruh pasien hamil tersebut (88 orang) IgG Denguenya positif.

Pembahasan

 Hampir semua kota di Brazil endemik Aedes Aegypti. Laporan Menkes Brazil Januari 2016, kasus Probable Dengue meningkat 50% (74.000) bila dibandingkan dengan kasus Probable Dengue pada Januari 2015. Sedangkan kasus Probable Dengue pada tahun 2014, 600.000 kasus dan meningkat menjadi 1,6 juta pada tahun 2015. Di lain pihak, outbreak mikrosefali yang dituduh pada virus Zika sudah mulai terjadi pada akhir tahun 2015. Jadi 2 virus bersaudara ini memang berjalan seiring, tapi yang menonjol selama puluhan tahun adalah virus Dengue.

Berdasarkan pembahasan kita tentang GBS di Polinesia, Prancis, seyogianya pathogenesis dan patofisiologi virus ini tidak berbeda banyak. Virus atau bahkan viremia tanpa ikatan dengan antibodinya (tidak membentuk kompleks imun) tidak akan memberikan reaksi yang hebat seperti GBS, mikrosefali. Jadi ditemukannya virus Zika pada darah 4 ibu hamil, atau virus Zika pada air ketuban 2 orang ibu hamil tidaklah berarti apa-apa. Malformasi kongenital pada fetus atau mikrosefali janin, disebabkan oleh kerusakan struktur pada jaringan tersebut akibat penghancuran komplek imun (virus Zika dan antobodinya). Tetapi sesuai dengan pembahasan pada GBS, bila pasien itu ditemukan immunoglobulin G virus Dengue positif maka penyebab mikrosefalinya adalah penghancuran kompleks imun akibat adanya virus Dengue dengan antibodinya.

Pertanyaannya, kenapa sampai terjadi ribuan bayi mikrosefali di Brazil tersebut? Brazil termasuk daerah endemis Dengue, sehingga hal tersebut adalah mungkin bila virus Dengue mengalami mutasi genetik atau berubah menjadi super antigen atau terjadi perubahan miliu dari hospes yang menyebabkan penyebaran komplek imun ke uterus dan fetus menjadi lebih mudah atau telah adanya kerusakan di fetus atau uterus akibat mikroorganisme tertentu. Sehingga, bila komplek imun menempel di jaringan yang telah rusak tersebut maka terjadilah kerusakan yang lebih berat. Adanya toksoplasmosis yang memungkinkan terjadinya hal tersebut perlu dipertimbangkan. World Cup sepakbola 2014 kemungkinan menjadi pemicu penyebaran toksoplasmosis secara massif. Toksoplasma masuk ke manusia melalui mulut, baik dari makanan, minuman, atau tangan manusia yang terkontaminasi toksoplasma. Toksoplasma biasanya menyerang mata dan otak. Toksoplasma penyebab utama retinokoroiditis di Amerika Serikat. Penularan Toksoplasma kepada janin yang dikandungnya cenderung selalu meningkat. Telur Toksoplasma/oocyst dapat bertahan hidup di tanah lebih dari 1 tahun. Akibat World Cup 2014 itu, konsumsi daging mentah atau setengah matang, kotoran kucing, kotoran anjing dan bulu-bulunya bertebaran di seantero Brazil. Lebih dari 50% penyebab Toksoplasma adalah karena menelan daging yang tidak sempurna matangnya. Kemungkinan Toksoplasmosislah penyebab outbreaknya mikrosefali di Brazil atau kombinasi Toksoplasma dengan virus Dengue.

Dengan alasan-alasan di atas pula kita dapat mengatakan 35 orang yang tinggal atau berkunjung ke daerah endemis Zika di Brazil sebenarnya dapat juga dikatakan berkunjung atau tinggal di daerah endemis Dengue. Sehingga, 71% dari 35 orang itu atau 25 orang yang terkena mikrosefali, berdasarkan pembahasan kita sebelumnya, sebenarnya disebabkan oleh infeksi virus Dengue bukan infeksi virus Zika. Juga berdasarkan alasan-alasan yang telah dikemukakan maka 12 orang dari 42 orang ibu hamil dengan virus Zika yang positif dan terlihat gangguan fetus pada USG, sebenarnya disebabkan oleh virus Dengue juga. Sebab pada penelitian Patricia Brasil dan kawan-kawan itu, semua sampel penelitiannya (88 orang ibu hamil), IgG Denguenya positif. Kemungkinan lain adalah mikrosefali tersebut disebabkan oleh kombinasi dari toksoplasmosis dan infeksi Dengue seperti yang telah diterangkan sebelumnya. Begitupun dengan pasien panas, atralgia, kemerahan pada kulit yang didapatkan pada penelitian Patricia Brasil, dkk itu kemungkinan disebabkan oleh virus Dengue juga, bukan oleh karena Zika. Sedangkan koroiditis atau konjungtivitis yang terjadi selain disebabkan oleh virus Dengue kemungkinan lain adalah disebabkan oleh kombinasi Toksoplasmosis dan virus Dengue.

 Kesimpulan

Tidak cukup kuat, alasan untuk mengatakan virus Zika adalah hantu yang menyebabkan GBS di Polinesia, Prancis dan mikrosefali di Brazil. Apa yang didapatkan di Colombia, dimana 12000 wanita hamil, yang terinfeksi Zika ternyata kasus mikrosefalinya 0%, itu memperkuat apa yang saya sampaikan di atas. Infeksi virus Dengue, lebih logis untuk dikatakan sebagai hantu yang menyebabkan GBS dan mikrosefali.

Kombinasi infeksi virus Dengue juga perlu dipertimbangkan sebagai penyebab terjadinya ribuan mikrosefali di Brazil. Misalnya kombinasi virus Dengue dengan piryproxifen atau kombinasi virus Dengue dengan Tosoplasmosis. Tapi mengenai alasan larvasida piryproxifen sebagai penyebab mikrosefali mempunyai kekuatan yang lemah. Larvasida piryproxifen telah lama dicampurkan dalam air minum rakyat Brazil untuk membunuh larva nyamuk tetapi baru satu tahun inilah outbreak mikrosefali terjadi. Dengan demikian kombinasi infeksi virus Dengue dengan Toksoplasmosis akibat adanya World Cup tahun 2014 adalah lebih kuat atau lebih logis ketimbang pyriproxifen.

Kesimpulan penting dari semua tulisan ini adalah tidak diperlukannya vaksin Zika, begitu juga dengan vaksin Dengue (search DHF vaccination profit or loss).

Pada akhirnya hanya Allooh Tuhan Semesta Alam itulah sumber kebenaran. Dia memberikan ilmunya pada siapa saja yang Dia kehendaki. Telah datang kebenaran dan hancurlah yang batil. Sesungguhnya yang batil itu pasti hancur.

Semoga Bermanfaat.

Filed under Artikel 44 - Virus Zika (Hantu Jadi-Jadian) : Comments (0) : Sep 25th, 2016